Halo Sumsel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami lonjakan signifikan sebesar 1,37% dan ditutup pada level 6.319 pada perdagangan Selasa (4/8). Namun, di balik kenaikan ini, terdapat aksi jual besar-besaran dari investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp 774,89 miliar. Dalam analisis kali ini, kita akan intip saham net sell terbesar asing saat IHSG melonjak 1,37% ke 6.319, Selasa (4/8).

Menurut data yang diperoleh, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi saham yang paling banyak dijual oleh investor asing, dengan nilai mencapai Rp 131,35 miliar. Selain itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dilepas dengan nilai Rp 87,19 miliar, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 81,23 miliar. Jelas terlihat bahwa meskipun IHSG mengalami penguatan, investor asing justru memilih untuk menjual saham-saham tertentu.

Baca juga:

Selama sesi perdagangan, volume transaksi mencapai 20,91 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 1,22 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 11.056 triliun, dan total nilai transaksi siang ini sebesar Rp 7,84 triliun. Dari sebelas sektor yang ada di bursa, sepuluh di antaranya parkir di zona merah, dengan sektor industri mengalami penurunan paling signifikan sebesar 2,08%.

Beberapa saham yang mengalami penurunan di sektor industri antara lain PT Asia International Tbk (ASII) yang turun 1,6% ke level Rp 4.920, PT United Tractors Tbk (UNTR) melemah 1,14% ke level Rp 23.775, serta PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang merosot 3,81% ke level Rp 101. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada penguatan di IHSG, sejumlah emiten tetap menghadapi tekanan dari aksi jual asing.

Menarik untuk dicatat bahwa meskipun aksi jual bersih yang dilakukan oleh investor asing cukup signifikan, beberapa saham lainnya tetap terlihat kuat dan memperoleh perhatian. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) misalnya, mencatatkan transaksi besar senilai Rp 389,05 miliar, diikuti oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang mencapai Rp 345,24 miliar.

Baca juga:

Di pasar Asia, IHSG bukan satu-satunya indeks yang bergerak. Indeks Nikkei Jepang menguat 2,08% ke level 66.970, sementara Shanghai Composite turun 0,10% dan Hang Seng turun 0,57%. Ini menunjukkan bahwa pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh dinamika pasar regional.

Dalam konteks lebih luas, selama periode 3-7 Agustus 2026, IHSG secara keseluruhan menguat 2,81% meskipun net buy asing mengalami penurunan yang drastis, dari Rp 7,1 triliun menjadi Rp 695,2 miliar. Dengan dominasi transaksi yang berasal dari investor lokal yang mencapai 70%, hal ini menunjukkan perubahan signifikan dalam pola investasi di pasar saham Indonesia.

Investor asing tampaknya lebih selektif dalam memilih saham-saham yang akan dibeli, dengan beberapa emiten mencatat kenaikan tinggi sementara yang lain mengalami penjualan besar-besaran. Sebagai contoh, CBPE mencatatkan penguatan sebesar 71,21%, sedangkan BACH mengalami penurunan terdalam sebesar 35,23%.

Baca juga:

Dengan demikian, aksi jual oleh investor asing dan pergerakan IHSG yang menguat memberikan gambaran kompleks mengenai kondisi pasar saham saat ini. Jika kita intip saham net sell terbesar asing saat IHSG melonjak 1,37% ke 6.319, Selasa (4/8), kita dapat melihat bahwa meskipun ada optimisme di pasar, ada juga kekhawatiran yang mempengaruhi keputusan investasi dari para pelaku pasar.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.