Halo Sumsel – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini menunjukkan potensi untuk melemah ke Rp18.000 per dolar AS, ini pemicunya. Dalam sepekan terakhir, rupiah konsisten bergerak di bawah level Rp18.000, namun fluktuasi yang terjadi menunjukkan adanya tekanan yang signifikan. Pada Rabu (12/8/2026), nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp17.870, setelah sebelumnya menyentuh Rp18.088 setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Beberapa analisis menunjukkan bahwa sentimen eksternal dan internal turut memengaruhi pergerakan mata uang Garuda ini. Ketegangan yang berkelanjutan di Timur Tengah antara AS dan Iran, terutama terkait dengan isu Selat Hormuz, turut menjadi faktor utama. Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, menyoroti bahwa ketidakpastian ini mengakibatkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terhambat, yang pada gilirannya berpotensi memengaruhi harga minyak global.

Baca juga:

Selain itu, analis juga memprediksi bahwa rupiah akan melemah pada perdagangan yang akan datang, dengan estimasi berada di rentang Rp17.750 hingga Rp17.820 per dolar AS. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi inflasi di AS menjadi penyebab utama. Jika inflasi di AS terus menunjukkan tanda-tanda tekanan, maka potensi untuk kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve akan semakin meningkat, yang cenderung memperkuat dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Ibrahim Assuaibi juga menekankan bahwa pencalonan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI definitif menjadi perhatian pasar. Harapan untuk menjaga independensi BI di tengah fluktuasi nilai tukar ini sangat penting. Mengingat ketidakpastian yang ada, pasar akan terus memantau perkembangan ini dengan saksama.

Adapun, dampak dari pelemahan rupiah ini tidak hanya terlihat di pasar valuta asing, tetapi juga mulai menggerus laba emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Meskipun beberapa perusahaan, seperti Indofood, melaporkan kenaikan penjualan, laba bersih mereka justru tertekan akibat rugi selisih kurs yang disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar. Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menyatakan bahwa perusahaan yang banyak melakukan impor dan memiliki utang dalam dolar AS berisiko lebih tinggi terhadap pelemahan rupiah ini.

Baca juga:

Sementara itu, dari sisi domestik, cadangan devisa Indonesia tetap stabil meskipun mengalami beberapa tekanan akibat pembayaran utang luar negeri dan kebijakan stabilisasi nilai tukar yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa cadangan devisa pada akhir Juli 2026 berada di angka USD 145,3 miliar.

Dengan berbagai faktor yang saling berinteraksi ini, rupiah berpotensi melemah ke Rp18.000 per dolar AS, ini pemicunya. Investor dan pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap dinamika yang terjadi baik di dalam maupun luar negeri. Memantau rilis data ekonomi dari AS dan perkembangan hubungan internasional akan menjadi kunci dalam menentukan arah pergerakan nilai tukar rupiah ke depan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

Baca juga: