Halo Sumsel – Taiwan untuk pertama kalinya menembakkan puluhan rudal dari sistem HIMARS buatan Amerika Serikat ke arah China. Sebanyak 32 rudal diluncurkan dalam latihan militer selama dua hari yang digelar di sekitar Kota Taichung, Taiwan tengah.

Latihan tersebut berlangsung di sepanjang garis pantai sepanjang 12 mil yang disebut "pantai merah", yaitu daerah pesisir di seluruh negeri yang dianggap sebagai tempat pendaratan paling mungkin untuk invasi China. HIMARS adalah salah satu sistem terpenting dalam persenjataan Taiwan dan akan sangat penting dalam mempertahankan diri dari serangan Tiongkok.

Baca juga:

Militer juga menembakkan sistem roket Thunderbolt-2000 buatan dalam negeri, howitzer Paladin buatan AS, dan rudal anti-tank berpemandu. Latihan tersebut dirancang untuk "meningkatkan efektivitas pelatihan berorientasi tempur, memungkinkan para perwira dan prajurit untuk menyadari bahwa 'di mana pun adalah medan perang, dan pelatihan berlangsung terus-menerus'," demikian pernyataan tersebut.

Meskipun Taiwan telah menguji coba sistem HIMARS sebelumnya, pengujian tersebut sebelumnya hanya dilakukan dari pangkalan militer di pantai tenggara tempat roket ditembakkan ke Samudra Pasifik. Tiga puluh dua roket yang diuji pada Rabu hanya memiliki jangkauan maksimum sekitar sembilan mil atau sekitar 14,4 km, tetapi Taiwan memiliki amunisi jarak jauh yang mampu mencapai China.

Latihan tersebut berlangsung di sepanjang garis pantai sepanjang 20 kilometer di sekitar Taichung, Taiwan tengah. Latihan ini dirancang untuk mencerminkan kondisi pertempuran nyata, bukan sekadar manuver seremonial seperti biasanya. Yang membedakan latihan kali ini dari sebelumnya adalah pendekatan yang jauh lebih realistis.

Baca juga:

Latihan ini juga menandai peningkatan hubungan antara Taiwan dan Amerika Serikat, yang telah meningkatkan dukungan militernya kepada Taiwan terhadap ancaman Tiongkok. Peningkatan ini juga didukung oleh pembelian senjata Amerika Serikat oleh Taiwan, termasuk pesawat tempur F-16V dan kapal perang Arleigh Burke.

Latihan ini juga menandai peningkatan kesadaran di Taiwan tentang kebutuhan untuk mempertahankan diri dari serangan Tiongkok. Taiwan telah meningkatkan pengeluaran militernya dan telah mengembangkan strategi untuk menghadapi ancaman Tiongkok.

Latihan ini juga menandai peningkatan hubungan antara Taiwan dan negara-negara lainnya, termasuk Amerika Serikat, yang telah meningkatkan dukungan militernya kepada Taiwan. Peningkatan ini juga didukung oleh pembelian senjata Amerika Serikat oleh Taiwan, termasuk pesawat tempur F-16V dan kapal perang Arleigh Burke.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.