Halo Sumsel – Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, tengah menjadi sorotan setelah dikaitkan dengan mobil Toyota Fortuner yang digunakannya. Dikaitkan besan Andika Perkasa, Tiyo Ardianto buka suara soal asal-usul Fortuner yang dikendarainya, menanggapi tuduhan yang sempat viral di media sosial.
Dalam sebuah konferensi pers, Juru Bicara Aliansi BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, menuduh bahwa kendaraan tersebut terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik dari Letnan Jenderal TNI (Purn) Setyo Sularso. Setyo Sularso dikenal sebagai besan Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa, yang kini terlibat dalam tim pemenangan Ganjar Pranowo untuk Pemilihan Presiden 2024. Tuduhan ini memicu spekulasi bahwa Tiyo memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu, yang dinilai dapat mempengaruhi aksi-aksi mahasiswa.
Tiyo Ardianto dengan tegas membantah semua tuduhan tersebut. Ia menjelaskan bahwa mobil Fortuner yang digunakan bukanlah miliknya, melainkan mobil yang dipinjam dari saudaranya. Menurutnya, peminjaman kendaraan tersebut dilakukan karena merasa tidak aman setelah menerima berbagai ancaman. “Itu mobil saudara yang saya pinjam untuk bepergian sejak merasa tidak aman,” ungkap Tiyo dalam wawancara.
Tiyo juga menambahkan bahwa teror yang diterimanya semakin meningkat setelah insiden penyiraman air keras terhadap aktivis hak asasi manusia, Andrie Yunus, beberapa bulan lalu. Hal ini mendorongnya untuk menggunakan mobil yang dipinjamkan tersebut sebagai langkah untuk menjaga keselamatannya.
Perkembangan ini terjadi di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia, di mana mereka menuntut perbaikan ekonomi dan kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Tuduhan keterlibatan PDIP dalam aksi tersebut pun muncul, dengan alasan adanya kehadiran tokoh senior partai dalam demonstrasi, serta keterkaitan dengan individu-individu tertentu dalam lingkaran politik.
Walaupun Tiyo Ardianto sudah memberikan klarifikasi, kecurigaan terhadap keterlibatannya dalam politik tetap berlanjut. Beberapa pengamat politik berpendapat bahwa isu ini muncul karena posisi politik PDIP yang belum jelas, serta adanya kepentingan pihak-pihak tertentu. Masyarakat pun diharapkan tetap kritis dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar, terutama yang berkaitan dengan isu-isu politik dan mahasiswa.
Dalam konteks ini, Tiyo Ardianto berusaha untuk menjelaskan posisinya dan menghindari kesalahpahaman. Ia berharap agar semua pihak dapat memisahkan antara tindakan pribadi dan dugaan keterkaitan dengan politik. Melihat dinamika yang ada, penting bagi masyarakat untuk terus mengawasi perkembangan yang terjadi di lapangan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
