Halo Sumsel – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat di Selat Hormuz, di mana AS diam-diam angkut lebih dari 100 juta barel minyak dari Selat Hormuz. Aksi saling serang yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut di sekitar jalur perdagangan vital ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak lebih lanjut terhadap stabilitas kawasan.

Pengangkutan minyak oleh AS ini berlangsung di tengah serangkaian serangan yang dilakukan oleh militer AS yang menargetkan fasilitas-fasilitas militer Iran. Serangan tersebut diluncurkan menyusul insiden penyerangan terhadap kapal tanker minyak yang dilaporkan dilakukan oleh kapal nirawak Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengkonfirmasi bahwa mereka telah menghancurkan lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran serta fasilitas radar di pesisir Iran sebagai respon terhadap serangan tersebut.

Baca juga:

Presiden AS, Donald Trump, memberikan peringatan keras kepada Iran melalui media sosial, mengindikasikan bahwa jika situasi memburuk, AS siap untuk mengambil tindakan militer lebih lanjut. “Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!” tulis Trump, menegaskan ketegasan posisinya terhadap Iran.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah membalas serangan tersebut dengan menargetkan pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Hal ini menunjukkan bahwa ketegangan di Selat Hormuz dapat memicu eskalasi lebih lanjut yang dapat berdampak langsung pada keamanan pelayaran internasional.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia. Oleh karena itu, setiap ketidakstabilan di kawasan ini dapat mempengaruhi harga energi global. Iran berupaya untuk memperkuat posisinya dengan mengklaim hak kedaulatan atas selat tersebut, dan berencana untuk mengatur pelayaran bersama Oman. Namun, rencana ini ditolak oleh AS yang berpendapat bahwa Selat Hormuz adalah perairan internasional dan tidak boleh dikenakan biaya.

Baca juga:

Rencananya, Iran dan Oman akan membentuk kelompok kerja untuk mengatur tata kelola Selat Hormuz, termasuk layanan navigasi dan biaya yang sesuai standar internasional. Meskipun Iran menyatakan bahwa pungutan yang direncanakan bukan berupa tol, tetapi biaya layanan maritim, AS tetap menolak keras rencana tersebut.

Dalam situasi yang semakin memanas ini, pengangkutan minyak oleh AS dari Selat Hormuz menjadi langkah strategis untuk memastikan keamanan pasokan energi mereka. Namun, hal ini juga menciptakan risiko besar bagi stabilitas kawasan, di mana kedua belah pihak saling mengintimidasi dan menunjukkan kekuatan militer masing-masing. Ketegangan ini bukan hanya berpotensi mengganggu pasokan energi, tetapi juga dapat memicu konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Seiring dengan berlanjutnya ketegangan dan saling serang antara AS dan Iran, nasib kesepakatan damai yang pernah dijalin antara kedua negara kini berada di ujung tanduk. Pengangkutan lebih dari 100 juta barel minyak ini, ditambah dengan serangan balasan yang terjadi, menunjukkan bahwa situasi di Selat Hormuz sangat rentan dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.