Halo Sumsel – Ketegangan di Selat Hormuz semakin meningkat seiring dengan keputusan Iran untuk tetap memungut tarif bagi kapal yang melintas, meski ditentang oleh Amerika Serikat dan Organisasi Maritim Internasional (IMO). Langkah ini dikhawatirkan akan menciptakan preseden berbahaya bagi pelayaran internasional, terutama di kawasan Asia Tenggara.
Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, dalam pernyataannya menekankan bahwa pengenaan biaya tersebut tidak sesuai dengan hukum internasional. “Jika hal itu tidak sesuai dengan hukum internasional dan tidak memiliki dasar yang kuat untuk benar-benar diberlakukan, maka hal tersebut tidak dapat diterapkan,” ujarnya. Pernyataan ini muncul setelah IMO mulai mengevakuasi kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz sejak bulan Juni, namun operasi tersebut terpaksa dihentikan setelah serangkaian serangan terhadap kapal dagang terjadi di kawasan tersebut.
Dominguez menambahkan bahwa sekitar 500 kapal saat ini masih terjebak di Selat Hormuz, dan evakuasi hanya dapat dilanjutkan jika Iran dan AS memberikan jaminan bahwa kapal-kapal tersebut tidak akan menjadi sasaran serangan. Dalam konteks ini, ketegangan juga meningkat di Laut Merah, di mana kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade maritim terhadap kapal-kapal yang berhubungan dengan Arab Saudi.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memperingatkan bahwa tindakan Iran untuk menguasai Selat Hormuz dapat menciptakan preseden yang berbahaya dan berdampak pada kebebasan navigasi di kawasan lain, termasuk Laut China Selatan. “Jika kita membiarkan negara seperti Iran mengontrol jalur pelayaran internasional dan mengenakan tarif, maka kita telah menciptakan preseden yang sangat berbahaya,” ungkap Rubio dalam sebuah pertemuan dengan para menteri luar negeri ASEAN di Manila.
Kondisi di Selat Hormuz semakin memanas setelah serangkaian serangan militer antara AS dan Iran. Pada tanggal 20 Juli 2026, AS melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Iran, sementara Iran membalas dengan menyerang aset militer AS di Bahrain dan Kuwait. Dalam situasi ini, dua kapal tanker minyak dilaporkan mengalami kebakaran besar akibat ledakan di Selat Hormuz.
Dalam konteks ini, Dominguez menegaskan bahwa transportasi laut tidak seharusnya dijadikan alat dalam konflik geopolitik apa pun. “Transportasi laut tidak seharusnya dijadikan sandera dalam konflik geopolitik,” tegasnya. Ketidakstabilan di Selat Hormuz sangat mempengaruhi Asia, yang bergantung pada impor minyak mentah dari Timur Tengah, dan Jepang diharapkan dapat memainkan peran aktif dalam meredakan ketegangan ini.
Meski ditentang AS, Iran ngotot pungut tarif di Selat Hormuz, yang menunjukkan ketegangan geopolitik yang semakin meningkat dan tantangan bagi stabilitas di kawasan tersebut. Kini, dunia menunggu langkah selanjutnya dari kedua belah pihak serta dampaknya terhadap perdagangan global.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
