Halo SumselHarga emas melonjak, pasar pangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Dalam beberapa hari terakhir, harga emas dunia menunjukkan tren penguatan yang signifikan, didorong oleh melemahnya dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Pada perdagangan Rabu sore WIB, harga kontrak emas berjangka untuk Desember 2026 berada di kisaran USD4.216 hingga USD4.220 per troy ounce, naik hampir 3 persen dari penutupan sebelumnya di USD4.095.

Kenaikan harga emas ini terjadi di tengah sentimen pasar yang cenderung optimis. Sinyal-sinyal yang menunjukkan potensi perlambatan ekonomi AS membuat pelaku pasar memprediksi bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin akan menunda kenaikan suku bunga lebih lanjut. Gubernur The Fed, Lisa Cook, sebelumnya telah menyatakan kesiapannya untuk mendukung kebijakan kenaikan suku bunga, namun data terbaru menunjukkan bahwa sektor pekerjaan di AS menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Baca juga:

Data terbaru dari ADP Employment menyebutkan bahwa sektor swasta di AS hanya menambah 44.000 lapangan kerja pada Juli 2026, merupakan angka terendah dalam enam bulan terakhir. Hal ini membuka peluang bagi pasar untuk memprediksi bahwa The Fed mungkin akan mengevaluasi kembali kebijakan moneternya, yang pada gilirannya dapat memberikan dukungan tambahan bagi harga emas.

Di sisi lain, dinamika geopolitik di Timur Tengah juga berkontribusi pada sentimen ini. Meningkatnya harapan akan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz telah mendorong optimisme di kalangan pelaku pasar. Namun, ketegangan yang terus berlangsung antara Iran dan Israel tetap menjadi perhatian utama, yang dapat mempengaruhi stabilitas pasar keuangan global.

Selain itu, penguatan harga emas juga dipengaruhi oleh penurunan yield Treasury AS tenor 10 tahun yang tercatat sekitar 4,63 persen, turun dari 4,69 persen sebelumnya. Kombinasi antara dolar yang melemah dan yield yang lebih rendah memberikan ruang bagi harga emas untuk naik, mengingat logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga.

Baca juga:

JP Morgan Global Research juga memperkirakan bahwa harga emas akan terus mengalami kenaikan, dengan proyeksi rata-rata harga emas berada di angka USD5.300 per ons pada kuartal ketiga 2026, dan berpotensi meningkat hingga USD6.000 per ons pada kuartal akhir 2026. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun harga emas melonjak, pasar tetap menilai bahwa ada potensi kenaikan lebih lanjut di masa depan.

Sementara itu, di pasar domestik Indonesia, harga emas ritel dan perhiasan biasanya akan mengikuti pergerakan harga emas global. Namun, faktor-faktor seperti nilai tukar rupiah, biaya distribusi, dan margin pedagang juga turut menentukan harga akhir di toko. Pelaku pasar di Indonesia diharapkan untuk terus memantau fluktuasi harga emas global serta dampaknya terhadap harga lokal.

Dengan demikian, harga emas melonjak, pasar pangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Dalam jangka pendek, arah pergerakan harga emas masih sangat bergantung pada data ekonomi AS yang akan dirilis, serta respons pasar terhadap ketegangan geopolitik yang terus berkembang. Selama yield AS tidak kembali melonjak dan dolar tetap tertahan, emas berpotensi untuk tetap berada di area tinggi.

Baca juga:

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.